Jumat, 30 September 2011

Tulisan tegak bersambung


 
Setelah sekian lama bergelut di dunia pendidikan dan beberapa tahun menjadi seorang pengajar,saya menemukan bahwa ada banyak pelajaran-pelajaran yang saya dapat pada masa sekolah dulu tidak bisa saya aplikasikan dan tidak pakai sama sekali. Bukan! Bukan karena ilmu-ilmu itu tidak berguna namun kemungkinan karena saya tidak menggeluti bidang ilmu yang diberikan. Namun, dari banyak yang saya pelajari yang menggelitik pemikiran saya belakangan ini adalah tulisan tegak bersambung. 

Saya ingat saya berjuang keras dulu untuk bisa menulis sewaktu saya duduk dibangku Sekolah Dasar. Namun, pada masa-masa saya sedang belajar menulis kata demi kata dengan huruf balok, sayapun diperkenalkan menulis huruf  dengan tipe tulisan sambung. Guru saya di Sekolah Dasar dulu selalu menekankan bahwa kami harus menulis dengan tulisan tegak bersambung atau biasa juga disebut dengan tulisan indah. Terkadang guru sayapun akan memperbandingkan tulisan kami satu persatu di depan kelas. Bagi saya dan teman-teman yang berjuang dengan tulisan itu,maka kami harus siap bila kami masuk dalam daftar tulisan buru. Seorang teman yang sampai pada kelas 6 Sekolah Dasar masih berjuang untuk membuat tulisan tegak bersambung inipun, selalu menjadi bulan-bulanan hampir setiap hari. Perlahan-lahan, setelah saya terbebas dari guru-guru sekolah dasar saya,saya mulai bereksperimen dengan jenis-jenis huruf dalam tulisan saya sampai akhirnya suatu hari saya memutuskan jenis tulisan saya sendiri.


Adik lelaki saya, Jojonk,dulu menghabiskan waktu yang saaaannngggggaaattttt panjang untuk bisa menulis dengan benar. Dia selalu mendapatkan teguran dari guru dan Omak (mama) saya bahkan dari Bapak yang tulisannya pada kenyataannya adalah tulisan bersambung yang tidak tegak dan indah. Jojonk, mendapatkan kebebasan menulisnya setelah dia menginjak STM,saat dia mau mengubah tulisan tegak bersambung itu menjadi tulisan cetak walau pada awalnya membutuhkan bantuan penggaris.

Dua tahun lalu, kala keponakan saya memasuki dunia Taman Kanak-Kanak pada waktu usianya 4 tahun, saya ingat dia mulai menulis huruf balok, kemudian huruf kecil dan akhirnya berlanjut menulis tegak bersambung. Dia harus berjuang keras meniru contoh tulisan tegak bersambung yang gurunya contohkan. Walau perjuangan kerasnya hanya bisa sampai memperoleh nilai B+ dari sang guru.

Disisi lain, saya menemukan salah seorang murid saya, yang semasa TK-nya tidak kami ajarkan tulisan tegak bersambung dan begitupun sewaktu dia di Sekolah Dasar. Sehubungan dengan konsep “ Learning is a journey, it is not a race’ kami mengijinkan setiap anak untuk mengekplorasi dulu proses menulis itu. Tidak heran banyak lingkaran-lingkaran,spiral dan garis-garis dipermukaan kertas mereka. 

Kembali ke cerita tentang murid saya, suatu hari dia berkata : “ Miss, Rahmat bisa tulisan sambung?”. Ketika bertanya darimana dia mengetahuinya, dia dengan tatapan heran melihat saya sembari menjawab:” Rahmat belajar sendiri. Rahmat lihat ada, Rahmat coba dan Rahmat bisa.” Jawaban ini adalah jawaban yang saya sangat sukai bila saya menemukan murid saya berhasil melalui proses belajarnya dan dia menyadarinya.

Sebagai seorang guru saya, senang bila setiap anak belajar setiap hal yang berguna bagi mereka. Namun, saya tidak setuju apabila dalam proses menulis, kita begitu memaksakan setiap anak untuk mendapatkan tulisan yang tegak dan indah. Karena dengan usia yang masih sangat muda anak-anak masih bereksplorasi dengan tulisan seiring dengan berkembangnya motorik halus dan kasar tubuh mereka. “Pemaksaan”  pengajaran penulisan bagi anak-anak bisa mengakibatkan mereka trauma untuk menulis. Bahkan dengan melihat pensil dan kertas saja anak bisa langsung menangis.
Saya berharap sebaiknya setiap anak diberikan dahulu kebebasan mengeksplorasi tulisan dengan caranya sendiri dan juga menyelesaikan masalah dengan alat-alat tulis yang mereka pakai. Kelak, saat tiba waktu yang tepat maka setiap anak akan mengejutkan kita dengan perkembangan tulisannya yang memukau. Sebagai orangtua dan guru mereka kitapun harus jeli melihat waktu tersebut dan memperlengkapi diri untuk membantu mereka dalam proses penulisan. Tentu saja sebagai orang dewasa kita harus bersabar menantikan hasil dari proses belajar mereka. Bukankah setiap tulisan mencerminkan kepribadian pemiliknya?

Jadi, masihkah tulisan tegak bersambung atau tulisan indah perlu dimasukkan dalam pelajaran di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar?.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar